Minggu, 27 Desember 2015

Rangkuman Jurnal Tugas 2

Jurnal Rekayasa Proses, Vol. 6, No. 2, 2012

Life Cycle Assessment Pabrik Semen
PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap:
Komparasi antara Bahan Bakar Batubara dengan Biomassa
Taufan Ratri Harjanto
(Magister Teknik Pengendalian Pencemaran Lingkungan)
Moh. Fahrurrozi
(Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada)
I Made Bendiyasa
(Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada)
Sumber : http://jurnal.ugm.ac.id/jrekpros/article/view/4696/3956
           


1.      Pendahuluan
       Industri semen berdasarkan European Commission pada tahun 2010 adalah industri yang memerlukan energi panas dan listrik, sehingga sekitar 40% dari keseluruhan biaya operasional dihabiskan untuk pengadaan energi (Vito, dkk., 2011). Bahan bakar fosil, seperti batubara dan minyak bumi, secara global telah digunakan sebagai sumber energi dalam industri semen.
       Berdasarkan hasl penelitian dari pihak IPB pada tahun 2008 (Cahyono dkk., 2008) untuk PT Holcim Indonesia Tbk. tentang penggantian bahan bakar batu bara dengan bahan bakar lain khususnya biomassa, akan menyebabkan persoalan baru yaitu, berapa besar konstribusi emisi (gas buang) dan akibat lain yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar alternatif tersebut didalam industri semen. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan tersebut adalah dengan cara LCA (Life Cycle Assessment).
       Metode LCA digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan penggunaan bahan bakar batu bara dan bahan bakar biomassa pada industri semen.
a.       Industri Semen Holcim Indonesia
    PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap merupakan pabrik semen pertama di Jawa Tengah, yang dikenal sebagai produsen semen serbaguna (PPC/Portland Pozzolan Cement) berdasarkan SNI 15-0302-2004.
    Semua perusahaan Holcim di seluruh dunia, termasuk yang berada di kawasan Asia Pasifik, menjadi yang pertama di industri semen yang melakukan penghematan dan pemanfaatan energi secara efisien, menekan penggunaan bahan bakar fosil, serta solusi untuk mengurangi emisi CO2.
    Pabrik semen PT. Holcim Indonesia Tbk. yang beroperasi di Cilacap memiliki kapasitas produksi 2,6 juta ton/tahun, perusahaan ini sudah menggunakan energi alternatif biomassa, salah satunya sekam padi dari pertanian mulai tahun 2007, sehingga jumlah CO2 per ton yang dihasilkan dalam kegiatan operasional sehari-hari berhasil dikurangi hingga 4 persen, sedangkan konsumsi air bisa ditekan hingga 16 persen. Di atas lahan milik Holcim, ditanam spesies pohon yang bisa cepat tumbuh untuk membantu menyerap CO2 dan pada saatnya nanti, hutan kayu bakar ini akan dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan (Holcim, 2007).
    Menurut road map penurunan emisi carbon yang dibuat IEA (International Energy Association) dan WBCSD (World Business Council for Sustainable Development) – CSI (Cement Sustainable Initiatives ) rata-rata energi alternatif yang digunakan pabrik semen di dunia pada tahun 2012 adalah sekitar 5 – 10% (World Business Council for Sustainable Development, 2011). Penggunaan energi alternatif di PT Holcim IndonesiaTbk. pada tahun 2009 sudah berhasil mencapai 8,6% dan menghasilkan kira-kira 0,72% ton CO2/ton semen (Holcim, 2008).
b.      Life Cycle Assessment (LCA)
    Life Cycle Analysis (LCA) atau sering juga disebut Life Cycle Assessment merupakan sebuah metode berbasis cradle to grave (analisis keseluruhan siklus dari proses produksi hingga pengolahan limbah) yang digunakan untuk mengetahui jumlah energi, biaya, dan dampak lingkungan yang disebabkan oleh tahapan daur hidup produk dimulai dari saat pengambilan bahan baku sampai dengan produk itu selesai digunakan oleh konsumen. Setiap langkah LCA dijelaskan dalam standar internasional (ISO 14040, ISO 14041). Langkah ini senantiasa berulang, di mana tingkat dari detail dan usaha akan tergantung pada tujuan penelitian (World Business Council for Sustainable Development, 2002). Langkah-langkah tersebut adalah: (1) pendefinisian tujuan dan ruang lingkup, (2) analisis inventori, (3) analisis/penakaran dampak, (4) interpretasi (ISO 14040, 2006).
    Ada empat pilihan utama untuk menentukan batas-batas sistem yang digunakan berdasarkan standard ISO 14044 didalam sebuah studi LCA: (1) Cradle to grave: termasuk bahan dan rantai produksi energi semua proses dari ekstraksi bahan baku melalui tahap produksi, transportasi dan penggunaan hingga produk akhir dalam siklus hidupnya. (2) Cradle to gate: meliputi semua proses dari ekstraksi bahan baku melalui tahap produksi (proses dalam pabrik), digunakan untuk menentukan dampak lingkungan dari suatu produksi sebuah produk. (3) Gate to grave: meliputi proses dari penggunaan pasca produksi sampai pada akhir-fase kehidupan siklus hidupnya, digunakan untuk menentukan dampak lingkungan dari produk tersebut setelah meninggalkan pabrik. (4) Gate to gate: meliputi proses dari tahap produksi saja, digunakan untuk menentukan dampak lingkungan dari langkah produksi atau proses (GaBi, 2011).
2.      Cara Penelitian
       Penelitian dilakukan pada bulan Mei – Agustus 2012 dan mengacu kepada langkah–langkah studi Life Cycle Assessment berdasarkan ISO 14040 tahun 2006, yang dibagi menjadi empat tahap yaitu: (1) tahap identifikasi awal, (2) tahap pengumpulan data, (3) tahap pengolahan data dan (4) tahap interpretasi hasil dan kesimpulan.
       Langkah-langkah penelitian : (1) Identifikasi awal, (2) Pengumpulan dan pengolahan data, (3) Interpretasi dan kesimpulan.
       Batasan sistem teknis terdiri dari beberapa komponen yang ditinjau didalam produksi semen dari persiapan bahan baku sampai dengan produk hasil berupa semen serbaguna, yaitu: (1) quarry yang terletak di Nusakambangan dan Jeruklegi, (2) raw meal preparation, (3) pyroprocessing, (4) finish grinding/finish mill.
       Didalam penelitian ini menggunakan pendekatan cradle to gate dengan alasan bahwa kondisi skenario 1, 2, 3 dan 4 yang dapat dibandingkan kinerja terhadap lingkungan karena adanya perbedaan penanganan akibat dari digunakannya bahan bakar dengan formulasi yang berbeda adalah proses pengolahan bahan baku hingga menjadi produk semen. Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan basis 1000 kg produk semen untuk keempat skenario; (1) Bahan bakar yang digunakan adalah 100% batubara dengan faktor rasio clinker sebesar 0,95; (2) Bahan bakar yang digunakan adalah campuran 90% energi berasal dari batubara dan 10% berasal dari biomassa sekam padi dengan faktor rasio clinker sebesar 0,75; (3) Bahan bakar yang digunakan adalah campuran 50% energi berasal dari batubara dan 50% berasal dari biomassa miscanthus giganteus dengan faktor rasio clinker sebesar 0,75; (4) Bahan bakar yang digunakan 100% biomassa miscanthus giganteus (alang-alang raksasa) dengan faktor rasio clinker sebesar 0,75.
3.      Hasil dan Pembahasan
a.      Analisis Inventori
    Inventori dilakukan berdasarkan input dan output material didalam sistem. Data Input terdiri dari: kebutuhan bahan baku, energi/kelistrikan, air, dan alat transportasi yang digunakan. Perhitungan berdasarkan pada faktor clinker nya yang akan diproduksi. Faktor clinker ditetapkan berdasarkan pertimbangan pada hasil laboratorium di pabrik dan kebijakan perusahaan ataupun mengacu pada peraturan pemerintah yang tertuang dalam Permenprind RI No.12/M-IND/PER/1/2012.
    Data output berupa produk semen dan emisi yang dilepaskan terhadap lingkungan disetiap prosesnya. Tabel 1 menunjukkan inventori pada 1000 kg produk semen.
    Bahan Baku utama dalam proses pembuatan semen hanya ada 2 yaitu batu kapur dan tanah liat sebab semua senyawa – senyawa utama dalam semen berasal dari kedua bahan tersebut.
b.      Penilaian Dampak/Impact Assessment
·         Characterization impact assessment
       Characterization merupakan penilaian besarnya substansi yang berkontribusi pada kategori impact didalam produksi semen berdasarkan faktor karakterisasinya.
·         Damage impact assessment
       Analisis damage impact assessment digunakan untuk mengevaluasi dampak kerusakan yang dihasilkan berdasarkan dampak karakterisasinya. Analisis ini berguna sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk memperbaiki performa lingkungan.
       terdapat beberapa satuan unit untuk menentukan besaran yang diakibatkan oleh kerusakan dampak yaitu DALY, PDF*m2*yr, MJ primary dan kg CO2eq.
       DALY adalah ukuran yang diterima seseorang dari keseluruhan beban penyakit, dinyatakan sebagai jumlah tahun yang hilang akibat gangguan kesehatan cacat, atau kematian dini. Satu DALY adalah sama dengan satu tahun dari hidup sehat yang hilang. Ada 6 kategori karakterisasi dampak berdasarkan faktor kerusakannya yang dikelompokkan dalam kategori human health, yaitu carcinogenic, non carcinogenic, respiratory inorganic, ionizing radiation, ozone layer depletion, respiratory organic.
       PDF*m2*yr adalah bagian dari spesies/ekosistem yang berpotensi hilang per m2 per tahun, merupakan suatu unit yang digunakan untuk mengukur dampak terhadap suatu ekosistem. Satu PDF*m2*yr adalah sama dengan kerusakan spesies atau ekosistem seluas 1 m2 di permukaan bumi dalam 1 tahun. Kategori karakterisasi dampak yang dikelompokkan dalam kategori ecosystem quality adalah: aquatic ecotoxicity, terrestrial ecotoxicity, terrestrial acid/nutri, dan land occupation.
       Kg CO2eq digunakan sebagai satuan unit dari kategori karakterisasi dampak global warming, dan efek yang ditimbulkan adalah perubahan iklim secara global.
       MJ primary adalah jumlah energi dasar yang dibutuhkan untuk mengekstraksi suatu sumber daya alam. Kategori karakterisasi dampak yang memiliki satuan unit MJ primary adalah non renewable energy dan mineral extraction.
·         Single score impact assessment
       Metode yang diterapkan didalam penentuan single score adalah dengan skala kontribusi urutan nilai tertinggi yang berpengaruh pada keempat skenario produksi semen terhadap faktor kerusakan berdasarkan Impact 2002+.
4.      Interpretasi
       Interpretasi adalah langkah terakhir dalam tahapan LCA sebelum membuat keputusan dan rencana tindakan. Didalam melakukan interpretasi untuk menentukan isu-isu penting lingkungan, metode analisis yang dapat dilakukan adalah dengan metode pendekatan analisis kontribusi yang bertujuan untuk mengidentifikasi data yang memiliki kontribusi terbesar terhadap hasil indikator dampak. Disamping itu pula dipakai metode analisis perbaikan hasil.
a.       Analisis Kontribusi
    Analisis kontribusi digunakan dengan tujuan untuk mengetahui proses atau tahap didalam jejaring proses produksi semen yang memiliki kontribusi paling dominan, sehingga pengambilan keputusan dan perbaikan terhadap sistem menjadi tepat dan efektif sesuai dengan tujuan penelitian.
b.      Analisis Perbaikan
    Dari hasil analisis penakaran dampak dan kontribusi diketahui bahwa permasalahan utama yang menjadi perhatian untuk direkomendasikan perbaikan lingkungan adalah penggunaan batubara pada pyroprocessing dan distillate fuel oil sebagai bahan bakar alat-alat transportasi.
    Penentuan prioritas alternatif perbaikan lingkungan didasarkan pada beberapa kriteria. Kriteria tersebut adalah: sarana dan prasarana, kebijakan internal pabrik/perusahaan, kebijakan Pemda setempat dan kesadaran masyarakat.
5.      Kesimpulan
       Berdasarkan hasil analisis kontribusi dampak terhadap lingkungan dengan menggunakan bahan bakar sesuai dengan skenario 1, 2, 3, dan 4 untuk menghasilkan 1000 kg semen didapatkan nilai kontribusi total berturut-turut 2,78 x10-1 Pt, 2,24 x10-1 Pt, 1,57 x10-1 Pt, dan 8,50 x10-2 Pt. Dari hasil analisis kontribusi tersebut penggunaan biomassa lebih ramah terhadap lingkungan.
       Pada keempat skenario pemakaian bahan bakar dampak yang paling berpengaruh adalah global warming, respiratory inorganic dan resources. Secara umum kontribusi dampak terhadap lingkungan tertinggi berasal dari tahap pyroprocessing, kemudian disusul dari alat transportasi yang digunakan.
       Berdasarkan analisis perbaikan, truck sebagai alat transportasi pengangkut silika diganti dengan menggunakan kereta api, sehingga terjadi pengurangan kontribusi nilai sebesar 6,00 x10-4 Pt terhadap impact category global warming, 2,00 x10-3 Pt terhadap impact category respiratory inorganic dan 6,00 x10-4 Pt terhadap impact category non renewable energy.
       Komparasi penggunaan bahan bakar pada skenario 3 antara sekam padi dengan miscantus giganteus terhadap kontribusinya ke lingkungan, didapatkan bahwa sekam padi memberikan nilai sebesar 1,59 x10-2 Pt dan miscanthus giganteus (alang-alang raksasa) sebesar 1,58 x10-2 Pt, sehingga dengan hasil tersebut penggunaan miscantus giganteus (alang-alang raksasa) sebagai bahan bakar substitusi batubara lebih ramah terhadap lingkungan.
6.      Rekomendasi
       Untuk meningkatkan kualitas lingkungan, hasil dari penelitian berdasarkan analisis perbaikan maka direkomendasikan: (1) Alat transportasi pengangkut pasir silika diganti dengan kereta api untuk mereduksi pencemaran terhadap lingkungan. (2) Secara bertahap dilakukan substitusi batubara dengan biomassa. Penggunaan bahan bakar 50% batubara dan 50% biomassa adalah yang paling memungkinkan. (3) Pengembangan biomassa miscanthus giganteus sebagai bahan susbstitusi batubara perlu dilakukan kerena miscanthus memiliki potensi sebagai tanaman khusus bahan bakar non tanaman pangan, sehingga harga akan cenderung stabil. (4) Melakukan penghijauan dan revegetasi di daerah pantai, sebagai investasi biomassa dan mengurangi pencemaran lingkungan.



















Daftar Pustaka

Cahyono, T. D., Coto, Z., Febriyanto, F., 2008. Aspek Thermofisis Pemanfaatan Kayu Sebagai Bahan Bakar Substitusi di Pabrik Semen, Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan, Institut Pertanian Bogor.
Curran, M. A., (ed) 1996. Environmental Life Cycle Assessment, ISBN 0-07-015063-X, McGraw-Hill, USA.
Dahlan, E. N., 1992. Hutan Kota untuk Peningkatan Kualitas Lingkungan, APHI, Jakarta.
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2004. Kebijakan Energi Nasional 2003–2020, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta.
GaBi, 2011. Handbook for Life Cycle Assessment (LCA) Using the GaBi Software, PE International, Leinfelden-Echterdingen Germany.
Holcim Indonesia Tbk. PT., 2007. Confidence 2007Annual Report, Jakarta.
Holcim Indonesia Tbk., PT., 2008. Holcim Group AFR Policy, Jakarta.
Holcim Indonesia Tbk., PT., 2011. Pembangunan Berkelanjutan Laporan 2011, Jakarta.
International Standards Organization, 2006. Environmental Management - Life Cycle Assessment - Principles and Framework ISO 14040, ISO Press.
Jolliet, O., Sébastien, H., Schryver, A. D., Manuele, M., 2012. Impact 2002 + : User Guide Swiss Federal Institute of Technology Lausanne (EPFL), Switzerland.
Kementerian Perindustrian, Peraturan Menteri Perindustrian RI No. 12/M-IND/PER/1/2012: Peta Panduan (Road Map) Pengurangan Emisi CO2 Industri Semen di Indonesia, Kementrian Perindustrian, Jakarta.
Vito, A., Dangelico, M. R., Natallicio, A., Yazan M. D., 2011. Alternative Energy Source in Manufacturing Cement, Department of Mechanical and Management Engineering, Politecnico di Bari, Italy.
World Business Council for Sustainable Development, 2002. What LCA Can Tell Us about the Cement Industry., Konrad Saur, Five Winds International, Germany.
World Business Council for Sustainable Development, 2009. Cement Technology Road Map 2009 Carbon Emission Reductions up to 2050 Geneva, Switzerland.
World Business Council for Sustainable Development, 2011. CO2 and Energy Accounting and Reporting Standard for the Cement Industry, Geneva, Switzerland.

www.miscanthus.uiuc.edu

Jumat, 25 Desember 2015

Komposisi Udara

1.      Definisi dan Sifat-sifat Udara
       Udara adalah benda gas yang menyelubungi bumi, sering disebut juga atmosfer. Atmosfer terdiri atas bermacam-macam unsur gas dan di dalamnya terjadi proses pembentukan dan perubahan cuaca dan iklim. Atmosfer melindungi manusia dari sinar matahari yang berlebihan dan meteor-meteor yang ada.
       Adanya atmosfer bumi memperkecil perbedaan temperatur siang dan malam. Gejala yang terjadi di atmosfer sangat banyak dan beragam. Pada lapisan bawah, angin berhembus dan terbentuk hujan dan salju jatuh, dan terjadilah musim panas dan musim dingin. Semua ini merupakan gejala yang lazim terjadi yang sering disebut cuaca. Dan , udara juga memiliki sifat-sifat yakni:
a.       Selalu Menempati Ruang
b.      Memiliki Tekanan
c.       Mempunyai Massa
d.      Mengalir Dari Tekanan Tinggi ke Tekanan Rendah
Selain unsur pembentuk yang berupa gas, udara juga mengandung partikel padat dan cair, yang kebanyakan begitu kecilnya sehingga gerakan udara dapat mengimbangi kecenderungan partikel tersebut jatuh ke tanah. Partikel itu dapat berasal dari debu yang terangkat oleh angin, partikel garam laut, ataupun hasil pembakaran dan pengolahan dalam industri.
2.      Unsur-unsur Yang Terkandung Dalam Udara


a.       Gas Nitrogen
Gas nitrogen merupakan gas inert, artinya gas yang sangat stabil dan sulit bereaksi. Itulah sebabnya, ketika bernapas, gas nitrogen ikut keluar masuk paru-paru tanpa mengalami perubahan. Sebuah molekul gas nitrogen terdiri dari dua atom yang terikat sangat erat. Dibutuhkan energi yang sangat besar  untuk memecah ikatan kimia dari nitrogen. Nitrogen juga merupakan unsur yang hampir seluruhnya dapat ditemukan di atmosfer, hanya sedikit saja jumlahnya yang tidak dapat ditemukan di darat maupun di lautan. Nitrogen sangat penting fungsinya untuk kehidupan karena merupakan elemen utama dalam protein dan DNA.
b.      Gas Oksigen
Gas oksigen merupakan gas yang sangat reaktif, artinya gas yang sangat mudah bereaksi dengan zat lain. Reaksi oksigen dengan zat lain disebut oksidasi. Tumbuh-tumbuhan hijau merupakan produsen oksigen melalui proses fotosintesis. Oksigen adalah gas yang paling dibutuhkan manusia saat bernapas.  Oksigen memainkan peranan penting dalam proses perombakan bahan makanan di dalam tubuh.  Tanpa oksigen, manusia akan mati secara perlahan.
c.       Gas-gas Lainnya
·         Uap Air
Uap air yang kita hirup berbeda-beda kadarnya antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya.  Ada tempat-tempat yang memiliki udara yang mengandung banyak uap air, dan ada pula tempat-tempat yang kadar air dalam udaranya sangat rendah.  Air menguap dan bercampur dengan udara yang ada di sekitarnya.  Sebagian uap air akan naik ke atas dan membentuk awan yang nantinya bisa menjadi hujan yang turun ke permukaan bumi.
·         Karbondioksida
Karbondioksida dihasilkan oleh pernapasan makhluk hidup dan letusan gunung merapi. Meskipun jumlahnya hanya sedikit, tetapi keberadaannya sangat penting. Gas karbondioksida diperlukan untuk proses fotosintesis tumbuhan hijau. Selain itu, gas karbondioksida juga berfungsi untuk menjaga suhu permukaan bumi dengan cara sebagai berikut : energi panas sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi ditangkap (diserap) oleh gas karbondioksida sebelum lolos ke angkasa luar.
·         Ozon
Selain keempat gas tersebut di atas, ada beberapa gas lain yang terdapat di dalam atmosfer, yaitu di antaranya ozon. Walaupun ozon ini jumlahnya sangat sedikit, namun sangat berguna bagi kehidupan di bumi, karena ozon dapat menyerap sinar ultra violet yang dipancarkan  sinar matahari sehingga jumlahnya sudah sangat berkurang ketika sampai di permukaan bumi. Apabila radiasi ultra violet ini tidak terserap oleh ozon,  maka akan menimbulkan malapetaka bagi kehidupan mahkluk hidup yang ada di bumi. Radiasi ini di antaranya dapat membakar kulit mahkluk hidup, memecahkan pembuluh darah, dan menimbulkan penyakit kanker kulit.

Pemanasan Global

1.      Pendahuluan
       Pemanasan Global (Global Warming) adalah peristiwa meningkatnya suhu rata-rata pada lapisan atmosfer dan permukaan bumi. Gejala-gejala pemanasan global adalah  pergantian musim yang sulit kita prediksi, sering terjadinya angin puting beliung, terumbu karang yang memutih, dan banjir dan kekeringan di wilayah yang tidak biasa mengalaminya.
2.      Penyebab Pemanasan Global (Global Warming)
a.       Efek Rumah Kaca
    Efek rumah kaca adalah proses atmosfer menghangatkan planet. efek rumah kaca terjadi akibat panas yang dipantulkan ke permukaan bumi terperangkap oleh gas-gas di atmosfer, sehingga tidak dapat diteruskan ke luar angkasa, melainkan dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Efek rumah kaca memiliki manfaat bagi makhluk hidup di bumi, namun  jika berlebihan dapat berbahaya untuk kehidupan di Bumi karena dapat mempengaruhi dan mengganggu iklim.
b.      Meningkatnya Gas Rumah Kaca
    Gas-gas memiliki sifat yang menyerap panas, sehingga panas yang terpantul dari permukaan bumi tidak dapat diteruskan ke cahaya akibat dari gas tersebut, gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca. Gas yang paling berperan adalah karbon dioksida (CO2). Penyebab meningkatnya karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar batu bara dan pembakaran gas alam.
c.       Penggunaan CFC yang Tidak Terkontrol
    CFC atau Cloro Flour Carbon adalah bahan kimia yang digabungkan menjadi sebuah bahan untuk memproduksi peralatan, khususnya pada peralatan rumah tangga. CFC terdapat pada kulkas dan AC.
d.      Polusi Kendaraan Berbahan Bakar Bensin
    Kendaraan memberikan penyebab terbesar dalam terjadi pemanasan global. Polusi yang dihasilkan kendaraan berbahan bakar bensin seperti motor, mobil dan kendaraan lainnya dimana dari hasil pembuangannya menghasilkan gas karbon dioksida yang berlebihan. Gas karbon dioksida merupakan penyebab utama terjadinya pemanasan global karena karbon dioksida adalah gas yang menyerap panas sehingga tidak dapat keluar ke angkasa.
e.       Polusi Metana oleh Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan
    Gas metana menempati urutan kedua sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global. Gas metana dapat berasal dari bahan-bahan organik yang kekurangan oksigen dari hasil pemecahan bakteri seperti di persawahan, sedangkan pada peternakan, seperti usus hewan ternak, meningkatnya produksi hewan ternak maka meningkatnya pula gas metana yang dilepaskan ke permukaan bumi.
f.       Pengrusakan Hutan
    Hutan berfungsi dalam menyerap karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen, jika hutan rusak akibat dari penebangan dan pembakaran, maka yang terjadi adalah jumlah karbon dioksida yang diserap oleh hutan sedikit, dan semakin banyak karbon yang berkumpul di atmosfer yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.
g.      Pemboroson Energi Listrik
    Energi listrik yang sebagian besar kita gunakan adalah hasil pembakaran dari pembakaran minyak bumi dan batu bara, dimana hasil pembakaran tersebut menghasilkan karbon dioksida.
h.      Populasi Kendaraan yang Terus Meningkat
    Meningkatnya jumlah kendaraan, maka karbon dioksida pun yang dihasilkan dari kendaraan tersebut akan bertambah banyak dan tentu saja menimbulkan pemanasan global.
i.        Pembakaran Sampah Secara Berlebihan
    Pembakaran sampah berlebihan yang dilakukan secara massal akan menyebabkan terjadinya pemanasan global, karena dari hasil pembakaran sampah tersebut adalah gas metana, yang dapat memerangkap panas.
3.      Dampak Pemanasan Global (Global Warming)
a.       Gunung-gunung es akan mencair
b.      Curah hujan akan meningkat dan badai akan sering terjadi
c.       Air tanah cepat menguap yang akan menyebabkan kekeringan
d.      Angin akan bertiup lebih kencang dengan pola yang berbeda-beda yang dapat membentuk angin puting beliung
e.       Cuaca menjadi sulit diprediksi dan lebih ekstrem, baik itu hujan ekstrem atau kekeringan ekstrem
f.       Kenaikan permukaan laut yang sangat banyak akan menyebabkan Tsunami, banjir dan pulau-pulau akan tenggelam.
g.      Menyebabkan kekeringan di wilayah pertanian sehingga tanaman akan rusak
h.      Dapat mengakibatkan gagal panen akibat dari cuaca yang ekstem dengan terjadi banjir yang mengakibatkan tanaman pertanian akan terendam
i.        Meningkatnya hama pangan akibat dari perubahan iklim
j.        Populasi hewan dan tumbuhan akan menurun
k.      Meluasnya berbagai penyakit yang dapat menyerang manusia seperti DBD, malaria.
l.        Meningkatnya kasus orang meninggal akibat dari cuaca yang panas seperti jantung, stroke, dehidrasi, dan stress.




DAFTAR PUSTAKA


Selasa, 22 Desember 2015

Pencemaran Air

1.      Pembahasan
1.1.Latar Belakang
         Pencemaran lingkungan adalah masuknya makhluk hidup yang berupa zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup yang dilakukan oleh kegiatan manusia, sehingga kualitasnya menurun hingga ke tingkat yang menyebabkan lingkungan hidup tidak berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Salah satu pencemaran lingkungan adalah pencemaran air, pencemaran air ini disebabkan masuknya makhluk hidup atau zat yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Air dikatakan tercemar apabila kualitas airnya menurun hingga ke tingkat yang membahayakan makhluk hidup, sehingga air tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya.
         Pencemaran air atau polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, atau bisa dikatakan suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi.
         Air disebut tercemar karena terganggu oleh proses kontaminan antropogenik serta tidak menjadi pendukung kehidupan manusia, seperti air minuman, dan mengalami pergeseran yang signifikan yang ditandai dalam kemampuannya untuk mendukung dan menyusun komunitas biotik, seperti kehidupan ikan, fenomena alam, seperti banjir, gunung berapi, tanah longsor, binasanya ikan, tergerusnya kehidupan terumbu karang, badai, serta beberapa peristiwa bencana-bencana yang lain yang menyebabkan perubahan yang besar dalam kualitas air dan status ekologi air.
1.2.Penyebab-penyebab Pencemaran Air
a.       Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya dan mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem.
b.      Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
c.       Pencemaran air oleh sampah
d.      Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan
1.3.Jenis-jenis Pencemaran Air
a.    Pencemaran mikroorganisme dalam air. Pencemaran jenis ini adalah kuman sebagai penyebab penyakit pada makhluk hidup, seperti bakteri, virus, dan protozoa.
b.    Pencemaran air oleh anorganik nutrisi tanaman. Penggunaan pupuk nitrogen dan fosfat pada bidang pertanian telah dilakukan sejak dulu dan meluas. Pupuk kimia ini memang menghasilkan produksi tanamanya yang bagus sehingga menguntungkan petani, tetapi di lain pihak kedua bahan kimia itu dapat mencemari danau, sungai dan lautan.
c.    Pencemaran oleh bahan kimia anorganik. Bahan kimia anorganik seperti garam, asam dan bahan toksik logam seperti timbale, cadmium, merkuri dalam kadar tinggi yang dapat menyebabkan air menjadi tercemar. Pencemaran bahan-bahan tersebut dapat menurunkan produksi tanaman pangan dan bisa merusak peralatan yang dilintasi air karena korosif.
d.   Pencemaran oleh bahan kimia organik. Bahan kimiawi organik, seperti plastik, minyak, peptisida, larutan pembersih, detergen dan beberapa bahan kimia yang bersifat organik yang dapat terlarut dalam air dapat digunakan manusia tetapi dapat menyebabkan kematian pada ikan maupun organisme yang hidup di air.

1.4.Akibat-akibat Pencemaran Air
a.       Dapat menyebabkan banjir
b.      Erosi
c.       Kekurangan sumber air
d.      Menyebabkan terciptanya sumber penyakit
e.       Tanah longsor
f.       Dapat merusak ekosistem sungai
g.      Kerugian untuk nelayan
1.5.Cara-cara untuk Mencegah Pencemaran Air
a.       Membuang sampah sesuai pada tempatnya
b.      Untuk sebuah pabrik, melakukan filterisasi limbah yang akan dibuang dengan seksama
c.       Untuk air limbah rumah tangga sebaiknya dibuang ke saluran yang mengarah ke sepiteng
d.      Menggunakan bahan kimia seperlunya saja, seperti penggunaan peptisida dalam bidang pertanian
e.       Tidak menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan










Daftar Pustaka