Senin, 04 Januari 2016

Artikel Jurnal Tugas 1

Jurnal 1
Judul : Model Pemilihan Industri Komponen Otomotif Yang Ramah Lingkungan
Tahun Terbit : 2013
Penulis : Triwulandari S. Dewayana, Dedy Sugiarto, Dorina Hetharia
Sumber : http://blog.trisakti.ac.id/jurnalti/files/2014/02/1_Model-Pemilihan-Industri-Komponen-Otomotif-yang-Ramah-Lingkungan_Triwulandari-Sd-dkk.pdf

Jurnal 2
Judul : Implementasi Green Productivity Untuk Meningkatkan Produktivitas Pengembangan Usaha Kecil Menengah
Tahun Terbit : 2012
Penulis : Suhartini, ST, MT
Sumber : http://jurnal.itats.ac.id/wp-content/uploads/2013/05/IMPLEMENTASI-GREEN-PRODUCTIVITY-UNTUK-MENINGKATKAN-PRODUKTIVITAS-PENGEMBANGAN-USAHA-KECIL-MENENGAH.pdf


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
        Green Industry dikenal pada tahun 2009 dalam Gelaran Event International Conference on Green Industry in Asia di Manila, Filipina. Konferensi tersebut terselenggara atas kerjasama antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), United Nations Environment Programme (UNEP), International Labour Organization (ILO). Indonesia adalah satu dari beberapa negara yang mengirimkan perwakilannya dari 22 negara yang menjadi peserta konferensi tersebut. Salah satu hasil dari konferensi tersebut yaitu berupa perjanjian bersama negara-negara di Asia dalam usaha penanganan masalah lingkungan hidup melalui efisiensi penggunaan sumber daya dan pengurangan emisi gas karbon utamanya disektor industri.
        Industri-industri yang dapat menerapkan green industry adalah industri yang bergerak di sektor environmental good dan jasa, seperti : industri pendaur ulang, pengolah limbah, pembunuh limbah, pengangkut limbah, konsultan lingkungan, industri pengolah air limbah, pengendali pencemaran udara, peralatan pengolah limbah, industri manufaktur dan instalasi peralatan energi yang terbarukan, konsultan energi, laboratorium khusus pengukuran dan analisa lingkungan, dan industri yang memproduksi teknologi bersih.
        Terdapat enam kelompok industri yang menjadi keutamaan untuk peningkatan daya saing yaitu industri padat karya, industri kecil dan menengah (IKM), industri barang modal, industri berbasis sumber daya alam, industri pertumbuhan tinggi, dan kelompok industri prioritas khusus. Industri pertumbuhan tinggi yang diutamakan untuk diperkuat daya saingnya adalah industri dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi antara lain industri kendaraan bermotor, elektronika, dan telematika. Industri kendaraan bermotor (otomotif) dan komponennya di Indonesia merupakan salah satu jenis industri unggulan yang memiliki peran mendongkrak pertumbuhan ekonomi di atas 7%. Ada berbagai tantangan bagi industri nasional untuk lebih memiliki daya saing seperti masalah ketersediaan sumber daya yang semakin menipis juga ketergantungan terhadap bahan baku impor hingga masalah timbulan limbah.
        Sementara itu di lain sisi, perkembangan industri kerajinan batik saat ini semakin maju sejalan dengan laju arus globalisasi yang terus berjalan. Kemajuan ini membuat para pengrajin untuk terus meningkatkan dan memperbaiki kinerjanya agar dapat terus bertahan, dan bahkan dapat memenangkan persaingan dengan berbagai industri lainnya. Sejalan dengan peningkatan produksi, ternyata muncul banyak permasalahan lingkungan di sekitarnya. Permasalahan tersebut disebabkan karena adanya proses produksi yang seringkali mengakibatkan pembuangan material dan energi yang akan mencemari lingkungan, padahal proses produksi yang baik tidak hanya memperhatikan keamanan dan efek samping dari limbah sisa prosesnya, namun juga mengurangi limbah buangan yang dihasilkan. Permasalahan ini juga sangat sering diabaikan oleh pihak pengrajin, padahal saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu yang cukup hangat dibicarakan. Di awali dari kenyataan tersebut maka Kampoeng Batik sebagai salah satu pusat pengrajin batik yang memiliki potensi pencemaran limbah yang cukup tinggi. Dikatakan cukup tinggi karena menghasilkan volume limbah cair sebesar ±568 m³ per hari dengan menghasilkan produk ± 1.400 potong kain batik per hari. Kampoeng Batik juga berharap akan adanya keuntungan ekonomis dari peningkatan produktivitas yang dihasilkan dari penghematan penggunaan sumber daya dalam rangka perbaikan pengelolaan lingkungan tersebut.
        Untuk mengakoordinir dua kepentingan tersebut, digunakan metode Green Produktivitas. Green Produktivitas tersebut merupakan strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan penggunaan lingkungan secara bersamaan di dalam pembangunan sosial ekonomi secara keseluruhan.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Tinjauan Pustaka
2.1.1.      Green Industry
         Green industry adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya penghematan dan efektivitas penggunaan sumber daya secara bertahap sehingga mampu menyatukan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
2.1.2.      Produksi Bersih
         Kristanto (2013) menyatakan bahwa limbah merupakan akibat logis dari setiap proses yang terjadi dalam suatu industri (pabrik). Oleh karena itu dibutuhkan suatu pendekatan yang intens sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang mencegah, terpadu, dan diterapkan secara continue pada seluruh tahapan proses produksi. Pendekatan tersebut di kenal dengan istilah produksi bersih. Produksi bersih bertujuan untuk mencegah dan meminimalkan terbentuknya limbah atau bahan pencemar lingkungan serta melakukan upaya untuk Green industry.
         Penerapan Green industry (Kemenprin 2013) dilakukan melalui gagasan produksi bersih (cleaner production) melalui aplikasi 4R, yaitu Reduce (pengurangan limbah pada sumbernya), Reuse (penggunaan kembali limbah), dan Recycle (daur ulang limbah), dan Recovery (pemisahan suatu bahan atau energi dari suatu limbah). Meningkatkan penghematan penggunaan bahan baku, bahan penunjang, dan energi diseluruh tahapan proses produksi.
2.1.3.      Industri Komponen Otomotif Indonesia
         Dewayana et all (2012) menyimpulkan bahwa berdasarkan lokasi, 121 perusahaan menunjukkan bahwa industri komponen otomotif tersebar pada beberapa wilayah yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Persentase terbesar perusahaan berada di wilayah Jawa Barat (55,37%) dan DKI (24,79%). Berdasarkan jumlah tenaga kerja, dari data 49 perusahaan menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja terbesar yaitu 1280 orang dan terkecil yaitu 5 orang. 73% perusahaan merupakan perusahaan besar, 22% perusahaan sedang, sisanya sebesar 5% adalah perusahaan kecil.
2.1.4.      Penelitian Dan Model Terdahulu
         Untuk mendukung pertumbuhan Green Industry, Kementerian Perindustrian memberikan reward terhadap perusahaan industri nasional yang telah menerapkan konsep penghematan sumber daya dan penggunaan bahan baku dan energi yang ramah lingkungan serta terbarukan. Penghargaan Industri Hijau (PIH) telah berlangsung selama empat tahun. Penilaian penghargaan industri hijau didasarkan pada hal-hal berikut (Kementerian Perindustrian 2012) :
a.       Proses Produksi, meliputi bahan baku dan bahan penolong, energi, air, teknologi proses, produk, sumber daya manusia, dan lingkungan kerja.
b.      Manajemen Perusahaan, meliputi program efisiensi produksi, Community Development/Corporate Social Responsibility, penghargaan yang pernah diterima, dan sistem manajemen.
c.       Pengelolaan Lingkungan Industri, meliputi pemenuhan baku mutu lingkungan, sarana pengelolaan limbah dan emisi, dan kinerja pengelolaan lingkungan.
2.1.5.      Analytic Hierarchy Process (AHP)
         AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Prinsip dasar AHP yaitu :
a.       Dekomposisi
b.      Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgments)
c.       Sintesa Prioritas. Dengan prinsip dekomposisi, struktur masalah yang kompleks dibagi menjadi bagian-bagian secara hierarki.
2.1.6.      Productivity
         Productivity menurut Wingjosoebroto didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) antara output dengan input. Hasil output itu meliputi penjualan, laba, kepuasan konsumen, sedangkan input meliputi alat yang digunakan yaitu biaya, tenaga, keterampilan dan jumlah hasil individu. Dengan diketahuinya productivity, maka akan diketahui pula seberapa penghematan sumber-sumber input telah berhasil dihemat. Berdasarkan definisi tersebut maka dapat dituliskan persamaan sebagai berikut :
P =
2.1.7.      Green Productivity
         Berdasarkan APO (Asian Productivity Organization, 2003) green productivity adalah suatu strategi untuk meningkatkan produktifitas bisnis dan kinerja lingkungan pada saat yang bersamaan dalam mengembangkan sosial ekonomi secara keseluruhan. Green Productivity adalah bagian dari konsep peningkatan produktifitas yang ramah lingkungan dalam rangka menjawab isu global tentang sustainable development. Konsep Green Productivity diambil dari penggabungan dua hal penting dalam strategi pembangunan, yaitu: perbaikan productivity dan perlindungan lingkungan.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.Proses Perancangan
Model dilakukan melalui dua tahapan sebagai berikut :
a.       Penyusunan Hierarki Keputusan untuk Pemilihan Industri Komponen Otomotif yang Ramah Lingkungan
b.      Penentuan Bobot pada setiap level hierarki.
       Penyusunan Hierarki Keputusan untuk Pemilihan Industri Komponen Otomotif yang Ramah Lingkungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a.       Perumusan tujuan
b.      Penentuan alternatif pilihan
c.       Penentuan level hierarki
d.      Identifikasi elemen-elemen pada setiap level hierarki selain level hierarki pertama (tujuan) dan level hierarki terakhir (alternatif pilihan)
e.       Penyusunan Hierarki Keputusan.
3.2.Pengumpulan Data
       Cara pengumpulan data dapat dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara secara mendalam serta melakukan survey lapangan sehingga mampu menghasilkan informasi yang akurat dan menyeluruh. Wawancara dikerjakan dengan membuat suatu daftar pedoman wawancara yang bersifat open-end. Metode yang digunakan Green Produktivitas. Green Produktivitas merupakan suatu strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan daya keja lingkungan secara bersamaan di dalam pembangunan sosial ekonomi secara keseluruhan.




3.3.Hasil Penelitian
3.3.1.      Production Cycle Inventory Quantification
         Proses produksi batik yang terdiri dari lima tahapan akan menghasilkan limbah di setiap tahapan proses produksinya. Limbah batik ini dapat dikategorikan menjadi padat, cair dan gas.
3.3.2.      Indikator Dampak Lingkungan
         Identifikasi aspek dan dampak lingkungan serta penilaian resiko lingkungan yang telah dilakukan oleh responden menunjukkan signifikansi dan dari masing-masing tahapan proses produksi batik.
3.3.3.      Uji Laboratorium
         Dari konsentrasi limbah di obyek penelitian yang diamati dan pelaksanaan uji limbah dilakukan di Laboratorium TAKI – Teknik Kimia, ITS, dapat diperoleh hasil analisa seperti pada tabel 1
parameter
BM*
hasil analisa (satuan mg/l)
A
B
C
D
metode
BOD
60
2350
460
280
330
DO Metri
COD
100
3940
480
480
560
refluk
TSS
50
630
160
40
140
Gravimetri
Phenol
1
0
0
0
0
Spektrophotometri
Cr total
1
0
0
0
0
AAS
Minyak Lemak
3,6
3
0
0
0
Ektraxi
NH-3 N
8
1,1
0,95
0,55
0,82
Spektrophotometri
Sulfida as H2S
0,3
0
0
0
0
Titri metri
PH
6,9
9,49
1,85
7,25
7,12
PH metri
Tabel 1
Keterangan:
BM* : Bakumutu berdasarkan Kep. Gub. No.45 th. 2002
A : Sisa Diketel atau Ngloyor
B : Sisa Pewarnaan Napsol
C : Sisa Pencucian atau Nglorod
D : Sisa Pewarnaan Ngesol
Dari hasil analisa limbah cair batik maka dapat dihitung beban limbah masing-masing parameter, pada tabel 2 menunjukkan beban limbah cair batik di Kampoeng Batik.
parameter
beban limbah (kg)
total beban limbah
A (80 m³)
B (80 m³)
C (500 m³)
D (5 m³)
BOD
188
36,8
140
1,65
366,45
COD
315,2
62,4
240
2,8
620,4
TSS
50,4
12,8
20
0,7
82,9
Phenol
0
0
0
0
0
Cr total
0
0
0
0
0
Minyak Lemak
1,8 x 10-5
0
0
0
1,1x10-6
NH-3 N
8,8x10-5
7,6x10-5
2,7x10-4
4,1x10-6
4,3x10-4
Sulfida as H2S
0
0
0
0
0
PH
7,9x10-4
1,5x10-3
3,6x10-3
3,6x10-6
4,6x10-4
Tabel 2
Keterangan:
BM* : Bakumutu berdasarkan Kep. Gub. No.45 th. 2002
3.3.4.      Perhitungan Penjualan dan Pengeluaran
         Setelah diketahui masing-masing harga bahan baku dan bahan penunjang, biaya tenaga kerja, biaya overhead, maka pada tabel 3 berikut ini adalah perhitungan penjualan dan pengeluaran dan keuntungan yang diperoleh oleh industri Kampoeng Batik Sidoarjo.

Item
/hari
/tahun
Total
jumlah produk
3.500 m
1.050.000 m

Penjualan
143.225.000
49.003.225.000

total penjualan per tahun (output)
49.003.225.000
tenaga kerja
38.500.000
11.550.000.000

Mori
49.000.000
14.700.000.000

Lilin
23.100.000
6.930.000.000

bahan kimia
23.400.000
7.020.000.000

bahan pembantu
350.000
105.000.000

over head
20.410.368
7.143.500.000

total pengeluaran per tahun (input)
47.449.139.000
keuntungan per tahun
1.554.086.000
keuntungan per bulan
129.507.167
produktivitas = output/input
103,30%
Tabel 3




3.3.5.      Green Productivity
         Biaya overhead pada industri batik di Kampoeng Batik berdasarkan estimasi biaya dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :
Item

total
minyak tanah

1.260.000
solar

270.000
Air

1.150.000
listrik

259.000
pengolahan limbah cair
larutan kapur
1.875.000
larutan tawas
10.125.000
arang = larutan AMK
3.640.000
jumlah

18.579.000
Tabel 4


Pada tabel 5 berikut ini adalah perhitungan penjualan, pengeluaran dan keuntungan yang diperoleh oleh industri Kampoeng Batik Sidoarjo.
Item
/hari
/tahun
total
jumlah produk
3.500 m
1.050.000 m

penjualan
143.225.000
49.003.225.000

total penjualan per tahun (output)
49.003.225.000
tenaga kerja
38.500.000
11.550.000.000

mori
49.000.000
14.700.000.000

lilin
23.100.000
6.930.000.000

bahan kimia
23.400.000
7.020.000.000

bahan pembantu
350.000
105.000.000

over head
18.579.000
6.502.650.000

total pengeluaran per tahun (input)
46.808.289.000
keuntungan per tahun
2.194.936.000
keuntungan per bulan
182.911.333
produktivitas = output/input
104,6%
Tabel 5