Judul : Model Pemilihan Industri Komponen Otomotif Yang Ramah Lingkungan
Tahun Terbit : 2013
Penulis : Triwulandari S. Dewayana, Dedy Sugiarto, Dorina Hetharia
Sumber : http://blog.trisakti.ac.id/jurnalti/files/2014/02/1_Model-Pemilihan-Industri-Komponen-Otomotif-yang-Ramah-Lingkungan_Triwulandari-Sd-dkk.pdf
Jurnal 2
Judul : Implementasi Green Productivity Untuk Meningkatkan Produktivitas Pengembangan Usaha Kecil Menengah
Tahun Terbit : 2012
Penulis : Suhartini, ST, MT
Sumber : http://jurnal.itats.ac.id/wp-content/uploads/2013/05/IMPLEMENTASI-GREEN-PRODUCTIVITY-UNTUK-MENINGKATKAN-PRODUKTIVITAS-PENGEMBANGAN-USAHA-KECIL-MENENGAH.pdf
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Green Industry dikenal
pada tahun 2009 dalam Gelaran Event International Conference on Green Industry
in Asia di Manila, Filipina. Konferensi tersebut terselenggara atas kerjasama
antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), United
Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), United
Nations Environment Programme (UNEP), International Labour Organization (ILO).
Indonesia adalah satu dari beberapa negara yang mengirimkan perwakilannya dari
22 negara yang menjadi peserta konferensi tersebut. Salah satu hasil dari konferensi
tersebut yaitu berupa perjanjian bersama negara-negara di Asia dalam usaha
penanganan masalah lingkungan hidup melalui efisiensi penggunaan sumber daya
dan pengurangan emisi gas karbon utamanya disektor industri.
Industri-industri yang dapat menerapkan green
industry adalah industri yang bergerak di sektor environmental good dan
jasa, seperti : industri pendaur ulang, pengolah limbah, pembunuh limbah,
pengangkut limbah, konsultan lingkungan, industri pengolah air limbah,
pengendali pencemaran udara, peralatan pengolah limbah, industri manufaktur dan
instalasi peralatan energi yang terbarukan, konsultan energi, laboratorium
khusus pengukuran dan analisa lingkungan, dan industri yang memproduksi
teknologi bersih.
Terdapat enam kelompok industri yang
menjadi keutamaan untuk peningkatan daya saing yaitu industri padat karya,
industri kecil dan menengah (IKM), industri barang modal, industri berbasis
sumber daya alam, industri pertumbuhan tinggi, dan kelompok industri prioritas
khusus. Industri pertumbuhan tinggi yang diutamakan untuk diperkuat daya
saingnya adalah industri dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi antara lain
industri kendaraan bermotor, elektronika, dan telematika. Industri kendaraan
bermotor (otomotif) dan komponennya di Indonesia merupakan salah satu jenis
industri unggulan yang memiliki peran mendongkrak pertumbuhan ekonomi di atas
7%. Ada berbagai tantangan bagi industri nasional untuk lebih memiliki daya
saing seperti masalah ketersediaan sumber daya yang semakin menipis juga
ketergantungan terhadap bahan baku impor hingga masalah timbulan limbah.
Sementara itu di lain sisi, perkembangan
industri kerajinan batik saat ini semakin maju sejalan dengan laju arus
globalisasi yang terus berjalan. Kemajuan ini membuat para pengrajin untuk
terus meningkatkan dan memperbaiki kinerjanya agar dapat terus bertahan, dan bahkan
dapat memenangkan persaingan dengan berbagai industri lainnya. Sejalan dengan
peningkatan produksi, ternyata muncul banyak permasalahan lingkungan di
sekitarnya. Permasalahan tersebut disebabkan karena adanya proses produksi yang
seringkali mengakibatkan pembuangan material dan energi yang akan mencemari
lingkungan, padahal proses produksi yang baik tidak hanya memperhatikan
keamanan dan efek samping dari limbah sisa prosesnya, namun juga mengurangi
limbah buangan yang dihasilkan. Permasalahan ini juga sangat sering diabaikan
oleh pihak pengrajin, padahal saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu yang
cukup hangat dibicarakan. Di awali dari kenyataan tersebut maka Kampoeng Batik
sebagai salah satu pusat pengrajin batik yang memiliki potensi pencemaran
limbah yang cukup tinggi. Dikatakan cukup tinggi karena menghasilkan volume
limbah cair sebesar ±568 m³ per hari dengan menghasilkan produk ± 1.400 potong
kain batik per hari. Kampoeng Batik juga berharap akan adanya keuntungan
ekonomis dari peningkatan produktivitas yang dihasilkan dari penghematan
penggunaan sumber daya dalam rangka perbaikan pengelolaan lingkungan tersebut.
Untuk mengakoordinir dua kepentingan
tersebut, digunakan metode Green Produktivitas. Green Produktivitas tersebut
merupakan strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan penggunaan
lingkungan secara bersamaan di dalam pembangunan sosial ekonomi secara keseluruhan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.Tinjauan
Pustaka
2.1.1.
Green
Industry
Green industry adalah
industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya penghematan dan
efektivitas penggunaan sumber daya secara bertahap sehingga mampu menyatukan
pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat
memberi manfaat bagi masyarakat.
2.1.2.
Produksi
Bersih
Kristanto (2013) menyatakan bahwa
limbah merupakan akibat logis dari setiap proses yang terjadi dalam suatu
industri (pabrik). Oleh karena itu dibutuhkan suatu pendekatan yang intens
sebagai suatu strategi pengelolaan lingkungan yang mencegah, terpadu, dan
diterapkan secara continue pada seluruh tahapan proses produksi. Pendekatan
tersebut di kenal dengan istilah produksi bersih. Produksi bersih bertujuan
untuk mencegah dan meminimalkan terbentuknya limbah atau bahan pencemar
lingkungan serta melakukan upaya untuk Green industry.
Penerapan Green industry (Kemenprin
2013) dilakukan melalui gagasan produksi bersih (cleaner production)
melalui aplikasi 4R, yaitu Reduce (pengurangan limbah pada sumbernya), Reuse
(penggunaan kembali limbah), dan Recycle (daur ulang limbah), dan Recovery
(pemisahan suatu bahan atau energi dari suatu limbah). Meningkatkan
penghematan penggunaan bahan baku, bahan penunjang, dan energi diseluruh
tahapan proses produksi.
2.1.3.
Industri
Komponen Otomotif Indonesia
Dewayana et all (2012) menyimpulkan
bahwa berdasarkan lokasi, 121 perusahaan menunjukkan bahwa industri komponen
otomotif tersebar pada beberapa wilayah yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Persentase terbesar perusahaan berada di
wilayah Jawa Barat (55,37%) dan DKI (24,79%). Berdasarkan jumlah tenaga kerja,
dari data 49 perusahaan menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja terbesar yaitu
1280 orang dan terkecil yaitu 5 orang. 73% perusahaan merupakan perusahaan
besar, 22% perusahaan sedang, sisanya sebesar 5% adalah perusahaan kecil.
2.1.4.
Penelitian
Dan Model Terdahulu
Untuk mendukung
pertumbuhan Green Industry, Kementerian Perindustrian memberikan reward terhadap perusahaan industri nasional yang telah menerapkan konsep penghematan sumber daya dan penggunaan bahan
baku dan energi yang ramah lingkungan serta terbarukan. Penghargaan Industri Hijau (PIH) telah
berlangsung selama empat tahun. Penilaian penghargaan industri hijau didasarkan
pada hal-hal berikut (Kementerian Perindustrian 2012) :
a. Proses
Produksi, meliputi bahan baku dan bahan penolong, energi, air, teknologi
proses, produk, sumber daya manusia, dan lingkungan kerja.
b. Manajemen
Perusahaan, meliputi program efisiensi produksi, Community
Development/Corporate Social Responsibility, penghargaan yang pernah
diterima, dan sistem manajemen.
c. Pengelolaan
Lingkungan Industri, meliputi pemenuhan baku mutu lingkungan, sarana pengelolaan
limbah dan emisi, dan kinerja pengelolaan lingkungan.
2.1.5.
Analytic Hierarchy Process (AHP)
AHP
merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L.
Saaty. Prinsip dasar AHP yaitu :
a. Dekomposisi
b. Perbandingan
penilaian/pertimbangan (comparative judgments)
c. Sintesa
Prioritas. Dengan prinsip dekomposisi, struktur masalah yang kompleks dibagi
menjadi bagian-bagian secara hierarki.
2.1.6.
Productivity
Productivity menurut
Wingjosoebroto didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) antara output dengan
input. Hasil output itu meliputi penjualan, laba, kepuasan konsumen, sedangkan
input meliputi alat yang digunakan yaitu biaya, tenaga, keterampilan dan jumlah
hasil individu. Dengan diketahuinya productivity,
maka akan diketahui pula seberapa penghematan sumber-sumber input telah
berhasil dihemat. Berdasarkan definisi tersebut maka dapat dituliskan persamaan
sebagai berikut :
P = 
2.1.7.
Green
Productivity
Berdasarkan APO (Asian Productivity
Organization, 2003) green productivity adalah suatu strategi untuk
meningkatkan produktifitas bisnis dan kinerja lingkungan pada saat yang
bersamaan dalam mengembangkan sosial ekonomi secara keseluruhan. Green
Productivity adalah bagian dari konsep peningkatan produktifitas yang ramah
lingkungan dalam rangka menjawab isu global tentang sustainable development.
Konsep Green Productivity diambil dari penggabungan dua hal penting
dalam strategi pembangunan, yaitu: perbaikan productivity dan perlindungan
lingkungan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.Proses
Perancangan
Model
dilakukan melalui dua tahapan sebagai berikut :
a. Penyusunan
Hierarki Keputusan untuk Pemilihan Industri Komponen Otomotif yang Ramah
Lingkungan
b. Penentuan
Bobot pada setiap level hierarki.
Penyusunan
Hierarki Keputusan untuk Pemilihan Industri Komponen Otomotif yang Ramah
Lingkungan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
a.
Perumusan tujuan
b.
Penentuan alternatif pilihan
c.
Penentuan level hierarki
d.
Identifikasi elemen-elemen pada setiap
level hierarki selain level hierarki pertama (tujuan) dan level hierarki
terakhir (alternatif pilihan)
e.
Penyusunan Hierarki Keputusan.
3.2.Pengumpulan
Data
Cara
pengumpulan data dapat dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara secara
mendalam serta melakukan survey lapangan sehingga mampu menghasilkan informasi
yang akurat dan menyeluruh. Wawancara dikerjakan dengan membuat suatu daftar
pedoman wawancara yang bersifat open-end. Metode yang digunakan Green
Produktivitas. Green Produktivitas merupakan suatu strategi untuk
meningkatkan produktivitas perusahaan dan daya keja lingkungan secara bersamaan
di dalam pembangunan sosial ekonomi secara keseluruhan.
3.3.Hasil
Penelitian
3.3.1.
Production
Cycle Inventory Quantification
Proses produksi batik yang terdiri dari
lima tahapan akan menghasilkan limbah di setiap tahapan proses produksinya.
Limbah batik ini dapat dikategorikan menjadi padat, cair dan gas.
3.3.2. Indikator Dampak Lingkungan
Identifikasi aspek dan dampak
lingkungan serta penilaian resiko lingkungan yang telah dilakukan oleh
responden menunjukkan signifikansi dan dari masing-masing tahapan proses
produksi batik.
3.3.3. Uji Laboratorium
Dari konsentrasi limbah di obyek
penelitian yang diamati dan pelaksanaan uji limbah dilakukan di Laboratorium
TAKI – Teknik Kimia, ITS, dapat diperoleh hasil analisa seperti pada tabel 1
parameter
|
BM*
|
hasil analisa (satuan mg/l)
|
||||
A
|
B
|
C
|
D
|
metode
|
||
BOD
|
60
|
2350
|
460
|
280
|
330
|
DO Metri
|
COD
|
100
|
3940
|
480
|
480
|
560
|
refluk
|
TSS
|
50
|
630
|
160
|
40
|
140
|
Gravimetri
|
Phenol
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
Spektrophotometri
|
Cr total
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
AAS
|
Minyak Lemak
|
3,6
|
3
|
0
|
0
|
0
|
Ektraxi
|
NH-3 N
|
8
|
1,1
|
0,95
|
0,55
|
0,82
|
Spektrophotometri
|
Sulfida as H2S
|
0,3
|
0
|
0
|
0
|
0
|
Titri metri
|
PH
|
6,9
|
9,49
|
1,85
|
7,25
|
7,12
|
PH metri
|
Tabel 1
Keterangan:
BM*
: Bakumutu berdasarkan Kep. Gub. No.45 th. 2002
A
: Sisa Diketel atau Ngloyor
B
: Sisa Pewarnaan Napsol
C
: Sisa Pencucian atau Nglorod
D
: Sisa Pewarnaan Ngesol
Dari
hasil analisa limbah cair batik maka dapat dihitung beban limbah masing-masing
parameter, pada tabel 2 menunjukkan beban limbah cair batik di Kampoeng Batik.
parameter
|
beban limbah (kg)
|
total beban limbah
|
|||
A (80 m³)
|
B (80 m³)
|
C (500 m³)
|
D (5 m³)
|
||
BOD
|
188
|
36,8
|
140
|
1,65
|
366,45
|
COD
|
315,2
|
62,4
|
240
|
2,8
|
620,4
|
TSS
|
50,4
|
12,8
|
20
|
0,7
|
82,9
|
Phenol
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
Cr total
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
Minyak Lemak
|
1,8 x 10-5
|
0
|
0
|
0
|
1,1x10-6
|
NH-3 N
|
8,8x10-5
|
7,6x10-5
|
2,7x10-4
|
4,1x10-6
|
4,3x10-4
|
Sulfida as H2S
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
PH
|
7,9x10-4
|
1,5x10-3
|
3,6x10-3
|
3,6x10-6
|
4,6x10-4
|
Tabel 2
Keterangan:
BM*
: Bakumutu berdasarkan Kep. Gub. No.45 th. 2002
3.3.4.
Perhitungan
Penjualan dan Pengeluaran
Setelah diketahui masing-masing harga
bahan baku dan bahan penunjang, biaya tenaga kerja, biaya overhead, maka pada
tabel 3 berikut ini adalah perhitungan penjualan dan pengeluaran dan keuntungan
yang diperoleh oleh industri Kampoeng Batik Sidoarjo.
Item
|
/hari
|
/tahun
|
Total
|
jumlah produk
|
3.500 m
|
1.050.000 m
|
|
Penjualan
|
143.225.000
|
49.003.225.000
|
|
total penjualan per tahun (output)
|
49.003.225.000
|
||
tenaga kerja
|
38.500.000
|
11.550.000.000
|
|
Mori
|
49.000.000
|
14.700.000.000
|
|
Lilin
|
23.100.000
|
6.930.000.000
|
|
bahan kimia
|
23.400.000
|
7.020.000.000
|
|
bahan pembantu
|
350.000
|
105.000.000
|
|
over head
|
20.410.368
|
7.143.500.000
|
|
total pengeluaran per tahun (input)
|
47.449.139.000
|
||
keuntungan per tahun
|
1.554.086.000
|
||
keuntungan per bulan
|
129.507.167
|
||
produktivitas = output/input
|
103,30%
|
||
Tabel
3
3.3.5.
Green
Productivity
Biaya overhead pada industri batik di
Kampoeng Batik berdasarkan estimasi biaya dapat dilihat pada tabel 4 berikut
ini :
Item
|
total
|
|
minyak tanah
|
1.260.000
|
|
solar
|
270.000
|
|
Air
|
1.150.000
|
|
listrik
|
259.000
|
|
pengolahan limbah cair
|
larutan kapur
|
1.875.000
|
larutan tawas
|
10.125.000
|
|
arang = larutan AMK
|
3.640.000
|
|
jumlah
|
18.579.000
|
Tabel
4
Pada tabel 5 berikut ini adalah
perhitungan penjualan, pengeluaran dan keuntungan yang diperoleh oleh industri
Kampoeng Batik Sidoarjo.
Item
|
/hari
|
/tahun
|
total
|
jumlah produk
|
3.500 m
|
1.050.000 m
|
|
penjualan
|
143.225.000
|
49.003.225.000
|
|
total penjualan per tahun (output)
|
49.003.225.000
|
||
tenaga kerja
|
38.500.000
|
11.550.000.000
|
|
mori
|
49.000.000
|
14.700.000.000
|
|
lilin
|
23.100.000
|
6.930.000.000
|
|
bahan kimia
|
23.400.000
|
7.020.000.000
|
|
bahan pembantu
|
350.000
|
105.000.000
|
|
over head
|
18.579.000
|
6.502.650.000
|
|
total pengeluaran per tahun (input)
|
46.808.289.000
|
||
keuntungan per tahun
|
2.194.936.000
|
||
keuntungan per bulan
|
182.911.333
|
||
produktivitas = output/input
|
104,6%
|
||
Tabel
5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar